TEORI STIMULUS RESPON - DOLLARD & MILLER

 

TEORI STIMULUS RESPON NEAL E MILLER AND JOHN DOLLARD




PSIKOLOGI KEPRIBADIAN II

Rifdah Nur Aqilah (19310410061)

Dosen Pengampu : Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., M.A.

 

Miller dan Dollard adalah seorang psikolog Amerika. Miller lahir di Wisconsin, Amerika pada 3 Agustus 1909 dan wafat di Connecticut, Amerika pada 23 Maret 2002. Sedangkan Dollard lahir di Wisconsin pada 19 Agustus 1900 dan wafat pada 8 Oktober 1980 di Connecticut, Amerika. Dollard dan Miller bekerja sama di Institute of Human Relations, Universitas Yale. Mereka mengembangkan pendekatan interdisiplin 3 bidang ilmu yaitu, teori belajar, psikoanalitik, dan antropologi sosial. Teori Dollard dan Miller dipengaruhi oleh teori Hull – Spence tentang peranan motivasi terhadap tingkah laku dan bagaimana motivasi belajar dapat diperoleh. Mereka banyak menjelaskan konsep-konsep psikoanalitik seperti kecemasan – konflik – represi, menggunakan prinsip psikologi belajar dan kondisi sosial dari belajar. Selain teori Hull, Dollard dan Miller juga banyak dipengaruhi oleh ahli behavior sebelumnya seperti Thorndike, Pavlov, dan Watson.

Menurut Dollard dan Miller, bentuk sederhana teori belajar adalah mempelajari keadaan di mana terjadi hubungan antara respon dengan cue-stimulusnya. Di dalamnya juga dibahas prinsip-prinsip asosiasi dan reinforcement (penguatan). Penelitian Dollard dan Miller yaitu tentang rasa takut terhadap tikus putih. Teknis penelitiannya menggunakan sebuah kotak yang dasarnya dialiri listrik di mana akan menimbulkan rasa sakit untuk tikus. Kotak itu diberi sekat yang dapat diloncati tikus, sisi yang satunya diberi warna putih dengan listrik dan sisi lainnya diberi warna hitam yang tidak ada listrik. Bel dibunyikan bersamaan dengan aliran listrik sampai tikusnya kesakitan dan akan dihentikan ketika tikus melompat ke kotak hitam. Ternyata, setelah terjadi proses belajar, warna kotak putih atau bunyi bel saja tanpa listrik telah membuat tikus meloncati sekat. Hal itu merupakan reaksi takut terhadap rasa sakit. Percobaan ditingkatkan dengan tuas pengungkit untuk membuka sekat. Ternyata, tikus berhenti menabrak sekat dan belajar menekan tuas untuk membuka sekat.

Jadi, dalam penelitian Dollard dan Miller tersebut, terjadi beberapa proses yaitu :

1.    Classical conditioning (tikus terkondisi merespon bel sebagai tanda akan ada aliran listrik).

2.    Instrumental learning (tikus belajar respon melompati sekat sebagai instrumental menghindari rasa sakit).

3.    Extinction (tingkah laku melompati tidak dilakukan lagi, diganti dengan menekan tuas).

4.    Primary drive (rasa sakit dan tertekan) memunculkan learned atau secondary drive (rasa takut) yang memotivasi tingkah laku organisme, bahkan ketika sumber rasa sakit sudah tidak ada.

Berdasarkan penelitian-penelitiannya, Dollard dan Miller menyimpulkan bahwa sebagian besar dorongan sekunder yang dipelajari manusia, dipelajari melalui belajar rasa takut dan anxiety. Dan terdapat 4 komponen utama belajar, yaitu menginginkan sesuatu (want), mengenali sesuatu (notice), melakukan sesuatu (do), dan mendapat sesuatu (get). Kemudian menjadi drive, cue, response, dan reinforcement.

1.    Drive adalah stimulus dari dalam diri organisme yang mendorong munculnya tingkah laku, tetapi tidak menentukan bentuk kegiatannya. Semakin kuat stimulus, maka semakin kuat drivenya sehingga semakin kuat juga tingkah laku yang dihasilkan. Ada 2 drive yaitu primer dan sekunder. Drive primer adalah dorongan yang dibangkitkan oleh respon terhadap stimulus yang sifatnya bawaan (misalnya sakit karena kejutan listrik). Sedangkan drive sekunder adalah dorongan yang dimunculkan terhadap stimulus yang awalnya netral (dimunculkan oleh bel). Rasa takut atau cemas adalah dorongan sekunder untuk menyembunyikan dorongan primer yaitu rasa sakit.

2.    Cue adalah stimulus yang memberi petunjuk perlunya dilakukan respon perilaku, petunjuk yang ada pada stimulus sepanjang pemahaman subjektif individu. Bel menjadi cue bagi tikus untuk melompati sekat. Pada penelitian lanjutan, tuas menjadi cue untuk membuka sekat lalu melompat ke kotak hitam.

3.    Response adalah aktivitas yang dilakukan. Suatu response harus dilakukan secara nyata sebelum dikaitkan dengan stimulus tertentu. Contohnya, untuk dapat belajar berperilaku asertif, seseorang harus benar-benar mencoba merespon secara asertif.

4.    Reinforcement adalah suatu pereda dorongan (drive reduction). Agar terjadi proses belajar, harus ada reinforcement atau hadiah.

Dollard dan Miller juga membahas terkait proses mental individu antara lain, generalisasi stimulus adalah suatu stimulus yang dapat membangkitkan munculnya suatu respon yang dipelajari. Contohnya, ketika tangan seorang anak terkena panas dari ketel yang mendidih, ia bisa menggeneralisasi suara desis, bentuk teko, letak teko, dan lainnya. Generalisasi memungkinkan individu untuk belajar banyak hal. Kemudian, reasoning (nalar) adalah adanya proses internal dalam suatu tindakan. Misalnya, seseorang sedang jalan-jalan dan melihat toko peralatan. Hal itu mengingatkan orang tersebut tentang sesuatu yang diinginkan. Kemudian ia berpikir bahwa uang yang ada di dompet cukup, maka ia pun masuk ke toko. Menurut Dollard dan Miller, bahasa (ucapan, pikiran, tulisan, dan sikap tubuh) merupakan hal yang berperan penting terhadap motivasi, reinforcement, dan reasoning. Bahasa mampu menguatkan tingkah laku secara verbal dengan menggambarkan konsekuensi di masa depan, dan bahasa membuat dinamika proses belajar manusia semakin kompleks.

Dollard dan Miller mengemukakan 3 model konflik dorongan, yaitu konflik approach – avoidance (orang dihadapkan pilihan positif dan negatif dalam situasi), konflik avoidance – avoidance (orang dihadapkan 2 pilihan negatif), dan konflik approach – approach (orang dihadapkan 2 pilihan positif). Selain itu, Dollard dan Miller juga memandang penting faktor ketidaksadaran. Menurutnya, ketidaksadaran itu berisi hal yang tidak pernah disadari, juga berisi hal yang pernah disadari tapi tidak bertahan karena adanya represi.

 

Referensi :

Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian Edisi Revisi. Malang : UMM Press.

Feist, J. & Feist, G.J. (2002). Theories of Personality 5th Edition. Boston : McGraw Hill, Inc.

 

 



-SEKIAN DAN TERIMA KASIH-

 

TEORI ANALISIS FAKTOR - HANS J. EYSENCK

 

TEORI ANALISIS FAKTOR – HANS J. EYSENCK




PSIKOLOGI KEPRIBADIAN II

Rifdah Nur Aqilah (19310410061)

Dosen Pengampu : Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., M.A.


Hans Jurgen Eysenck adalah seorang psikolog berkebangsaan Jerman yang dilahirkan di Berlin pada 4 Maret 1916 dan wafat pada 4 September 1997 di London. Eysenck memakai pendekatan behaviorisme dalam melihat kepribadian manusia. Eyesenck berpendapat dasar umum sifat-sifat kepribadian berasal dari keturunan, dalam bentuk tipe dan trait. Namun, beliau juga berpendapat bahwa semua tingkah laku dipelajari dari lingkungan. Menurut Eysenck, kepribadian adalah keseluruhan pola tingkah laku aktual maupun potensial dari organisme, sebagaimana ditentukan oleh keturunan dan lingkungan. Pola tingkah laku itu berasal dan dikembangkan melalui interaksi fungsional dari 4 sektor utama yang mengorganisir tingkah laku, yaitu sektor kognitif (intelligence), sektor konatif (character), sektor afektif (temperament), dan sektor somatik (constitution).

Eysenck memandang kepribadian memiliki 4 tingkatan hirarki, berturut-turut dari hirarki yang tinggi ke hirarki yang rendah : tipe – traits – habit – respon spesifik. Tipe adalah kumpulan dari sifat-sifat yang saling berkaitan dalam dimensi yang luas. Traits adalah koleksi respon kebiasaan yang saling berkaitan atau mempunyai kesamaan tertentu. Habit adalah respon tingkah laku yang terus berlangsung di bawah kondisi yang sama. Dan respon spesifik adalah  tingkah laku yang dapat diamati dan menjadi ciri kepribadian. Eyesenck menemukan 3 dimensi tipe, yaitu ekstraversi – introversi, neurotisme, psikotisme, dan kecerdasan.

1.      EKTRAVERSI – INTROVERSI

Istilah ekstraversi dan introversi awalnya dipakai oleh Jung. Konsep ekstraversi – introversi Eyesenck hampir sama dengan konsepnya Jung di mana menurut Jung, ekstraversi adalah orang yang berpandangan objektif dan tidak pribadi, sedangkan introversi adalah orang yang berpandangan subjektif dan individualis. Menurut Eyesenck, perbedaan antara ekstraversi – introversi terletak pada tataran biologis dan genetiknya atau tingkat keterangsangan korteks yaitu CAL (Cortical Arousal Level). CAL adalah gambaran bagaimana korteks mereaksi stimulus indrawi.

Ekstraversi : ciri ekstraversi cenderung memiliki perasaan sosial, impulsivitas, rasa humor, gairah hidup, rasa optimisme, dan sifat-sifat yang mengindikasikan penghargaan terhadap hubungan dengan sesama. Ekstraversi memiliki CAL rendah (Under Arounsed) artinya tidak peka dan reaksinya lemah di mana butuh rangsangan indrawi yang banyak untuk mengaktifkan korteks. Contohnya, melakukan olahraga atau mendaki gunung.

Introversi : ciri introversi cenderung memiliki perasaan tidak sosial atau tidak berjiwa sosial, pasif, pendiam, ragu-ragu, rasa pesimis, penakut, banyak pikiran, kontrol diri, dan sebagainya. Introversi memiliki CAL tinggi (Over Aroused) artinya hanya butuh sedikit rangsangan untuk mengaktifkan korteks. Contohnya, menarik diri , menghindari keramaian, dan mendengarkan musik di kamar.

 

2.      NEUROTISISME

Eysenck melaporkan beberapa penelitian yang menemukan bukti dasar genetik dari trait neurotik, seperti gangguan kecemasan, histeria, dan obsesif-kompulsif. Juga ada keseragaman antara orang kembar-identik lebih dari kembar-fraternal dalam hal jumlah tingkah laku antisosial dan asosial seperti kejahatan orang dewasa, tingkah laku menyimpang pada anak-anak, homoseksualitas, dan alkoholisme. Neurotisisme adalah kecenderungan mengalami emosi negatif ditandai oleh high levels of negative affect (mudahnya terpengaruh perasaan negatif). Neurotisisme didasarkan pada reaktivitas sistem syaraf otonom (automatic nervous system reactivity). Individu dengan tingkat ANS tinggi cenderung mudah memberi respon secara emosional (emosi tidak stabil), contohnya marah ketika di kritik karena merasa tidak dihargai. Sedangkan  individu dengan tingkat ANS rendah cenderung memberi respon tidak emosional (emosi stabil), contohnya mampu menerima kritik dengan objektif.

 

3.      PSIKOTISISME

Individu yang skor psikotisismenya tinggi memiliki trait agresif, egosentris, dingin, penuh curiga, antisosial, tidak pribadi, impulsif, kreatif, keras hati, dan takempatik. Individu pada tingkat ini, lebih rentan mengidap stress dan berpotensi mengalami gangguan psikotik. Sedangkan individu yang skor psikotisismenya rendah memiliki trait merawat atau baik hati, hangat, penuh perhatian, akrab, tenang, sangat sosial, empatik, kooperatif, dan sabar. Seperti pada ekstraversi dan neurotisisme, psikotisisme mempunyai unsur genetik yang besar. Secara keseluruhan 3 dimensi kepribadian itu 75% bersifat herediter, dan hanya 25% yang menjadi fungsi lingkungan.

 

4.      KECERDASAN

Seperti 3 dimensi lainnya, kecerdasan lebih banyak dipengaruhi oleh keturunan. Namun, penelitian disekitar kecerdasan masih belum dapat mengolaborasi faktor kecerdasan itu dengan keseluruhan kepribadian manusia.

Konsep Eysenck menekankan bahwa kepribadian dibentuk oleh peran hereditas dan sebagian didasarkan pada bukti korelasional antara aspek-aspek biologis seperti CAL dan ANS dengan dimenasi kepribadian. Eysenck juga berpendapat, individu itu menjadi terkondisi perasaan takut atau cemasnya dengan stimulus yang baru saja dihadapi. Jadi, kecenderungan individu untuk merespon dengan tingkah laku neurotik semakin lama semakin luas. Eysenck menolak analisis psikodinamik yang memandang tingkah laku neurotik dikembangkan untuk tujuan mengurangi kecemasan. Justru, tingkah laku neurotik sering dikembangkan tanpa alasan yang jelas, sering menjadi kontraproduktif, dan semakin meningkatkan kecemasan. Jika tingkah laku diperoleh dari belajar, logikanya tingkah laku juga bisa dihilangkan dengan belajar. Eysenck memilih model terapi tingkah laku atau metode menangani tekanan psikologis yang dipusatkan pada pengubahan tingkah laku salah suai alih-alih mengembangkan pemahaman mendalam terhadap konflik jiwa.



Referensi :

Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian Edisi Revisi. Malang : UMM Press.

Feist, J., & Feist, G.J. (2002). Theories of Personality 5th Edition. Boston : McGraw Hill, Inc.

 


-SEKIAN DAN TERIMA KASIH-

 

TEORI FAKTORIAL ANALITIK

 RAYMOND BERNARD CATTELL




PSIKOLOGI KEPRIBADIAN II

Rifdah Nur Aqilah (19310410061)

Dosen : Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., M.A.


Raymond Bernard Cattell dilahirkan pada 20 Maret 1905 dan wafat pada 2 Februari 1998. Cattell adalah salah satu psikolog berpengaruh di abad 20. Raymond Cattell (dan Hans J. Eysenck) mempunyai dua persamaan keyakinan dasar, yaitu bahwa kepribadian memiliki banyak sekali dimensi yang dapat diukur dan teknik statistik faktor analisis dapat menjadi sarana untuk mengisolasi variabel-variabel kepribadian itu. Menurut Cattell, kepribadian adalah sesuatu yang memungkinkan prediksi tentang tingkah laku seseorang dalam situasi tertentu, mencakup seluruh tingkah laku baik yang konkrit teramati maupun yang abstrak simpulan.

Kepribadian merupakan struktur yang kompleks dari traits yang tersusun dalam berbagai kategori. Traits adalah hipotesis atau simpulan struktur mental yang mendasari keajekan tingkah laku amatan, di mana berbagai sifat itu menjadi aspek yang menentukan struktur dan dinamika kepribadian. Cattell menganggap traits itu sebagai konstruk hipotetik atau imajiner yang disimpulkan dari pengamatan obyektif terhadap tingkah laku. Ada berbagai cara mengklasifikasikan traits, diantaranya :

a.      Common – Unique Traits. Common traits adalah traits yang dimiliki oleh semua orang dalam tingkatan tertentu. Misalnya, intelegensi, introversi, dan suka berteman. Sifat universal dari common traits ada karena manusia memiliki latar belakang hereditas yang kurang lebih sama dan mereka menghadapi pola tekanan sosial yang sama pula. Sedangkan unique traits adalah traits yang dimiliki satu orang saja (bisa juga dimiliki oleh beberapa orang). Sifat unique ini terutama berhubungan dengan interest dan attitude.

b.      Surface – Source Traits. Surface traits adalah sifat yang tampak yang menjadi tema umum dari beberapa tingkah laku. Misalnya, remaja yang lincah, menyenangkan orang lain, dan merencanakan kegiatan yang menarik. Sebaliknya, remaja yang senang mengkritik orang lain, memandang masa depan selalu suram dan tampak lelah, dikatakan memiliki sifat depresif. Sedangkan source traits adalah elemen-elemen dasar yang menjelaskan tingkah laku. Source traits ini bisa bersifat dibawa sejak lahir (konstitusional) atau bersifat diperoleh dari pengalaman berkomunikasi dengan lingkungan (environmental-mold). Jumlah source traits jauh lebih kecil dibanding surface traits sehingga lebih ekonomis dalam mendeskripsikan tingkah laku.

Cattell menemukan 16 source traits yang dikembangkan menjadi instrumen 16 Personality Factor Questionnair (16 PF).




c.       Ability Traits – Temprament Traits – Dynamic Traits. Ability traits menentukan seberapa efektif seseorang dalam usaha mencapai tujuan (contohnya kecerdasan). Temprament traits adalah gaya dan irama umum tingkah laku (contohnya ketenangan atau kegugupan, keberanian, santai, mudah tersinggung, dan lain-lain). Sedangkan dynamic traits berkaitan dengan motivasi tingkah laku (contohnya, dorongan, ketertarikan, dan ambisi menguasai ilmu atau benda). Ada 3 jenis dynamic traits yaitu Attitude – Sentiment – Erg.

Identifikasi dan klasifikasi elemen kepribadian menghasilkan informasi mengenai berbagai traits yang bersama-sama akan dapat dipakai meramalkan tingkah laku atau respon seseorang dalam situasi tertentu. Persamaan hanya memasukkan trait-trait akan menghasilkan ramalan tingkah laku yang relatif stabil, untuk menggambarkan keadaan yang obyektif mengenai tingkah laku yang terus berubah. Cattell memasukkan state, role, dn set, bagian dan struktur kepribadian yang relatif tidak stabil. State adlaah keadaan perasaaan. Role adalah peran yang dimainkan dalam lingkungan. Dan set adalah kesiapan tingkah laku yang disiagakan untuk menghadapi situasi tertentu.

Cattell menyimpulkan dari penelitiannya, bahwa ada persamaan traits antar usia sejak usia 14 tahun sampai dewasa. Tentu saja, untuk tingkat usia yang berbeda harus dibuat instrumen yang berbeda pula. Untuk membuktikan bahwa instrumen itu mengukur faktor atau traits yang sama, Cattell memakai teknik Boundary yaitu mengenakan 2 tes untuk kelompok usia yang berbeda kepada usia yang setara.

 

Referensi :

Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian Edisi Revisi. Malang : UMM Press.


-SEKIAN DAN TERIMA KASIH-

TEORI KONSTRUK PERSONAL - GEORGE A KELLY

 GEORGE ALEXANDER KELLY




PSIKOLOGI KEPRIBADIAN II
Rifdah Nur Aqilah (19310410061)
Dosen : Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., M.A.

George Alexander Kelly lahir di Perth, Kansas pada 28 April 1905 dan wafat pada 6 Maret 1967. Kelly adalah seorang psikolog Amerika, therapist, dan personality theorist. Dalam dunia psikologi, Kelly dikenal dengan teori konstruk personalnya. Teori itu menekankan cara individu menafsirkan atau mengurai peristiwa dan mengembangkan titik pandang sehingga menjadikan tiap orang tanpa sadar mengambil peran sebagai ilmuwan dengan mengamati peristiwa, merumuskan konsep untuk mengorganisasikan fenomena, dan berusaha untuk meramalkan kejadian di masa depan.

Jadi sederhananya, konstruk personal adalah cara seseorang melihat dunianya dan bebas memaknai setiap kejadian atau peristiwa karena setiap orang memiliki perspektif yang berbeda. Lalu, dalam mengalami peristiwa manusia itu mampu menyadari perbedaan karakteristik peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain. Proses adaptasi dan peyesuaian dapat diprediksi melalui konstruk yang dimiliki oleh setiap individu. Proses kognitif merupakan pusat kepribadian individu, sedangkan emosi dan perilaku dipengaruhi oleh kognisi. Teori kepribadian Kelly memiliki dasar terkait dengan pikiran individu atau kognitifnya.

Terdapat 2 fitur kunci dalam teorinya yaitu berhubungan dengan perubahan dalam stabilitas dan keunikan individu (idiografik), juga karakteristik dan proses umum untuk semua orang (nomothetic). Bagi Kelly ciri utama kehidupan sehari-hari adalah upaya kita mengembangkan ide yang memungkinkan kita untuk memprediksi peristiwa penting dalam kehidupan sehari-hari. Kita ingin dapat memprediksikan apakah kita “akan”. Nah, dalam membuat prediksi ini kita bekerja seperti seorang ilmuwan dengan mengembangkan teori, kemudian menguji hipotesis dan mengembangkan bukti peristiwa.

Sebelas tipe struktur kepribadian menurut Kelly yang disebut Corollary :

1. Construction Corollary : Manusia mengantisipasi peristiwa dengan membentuk replikasi (pada peristiwa yang temanya sama).

2. Individuality Corollary : Manusia berbeda-beda dalam membuat konstruk atas peristiwa yang sama (tergantung interpretasi masing-masing).

3. Organization Corollary : Manusia cenderung untuk mengatur konstruk individualnya berdasarkan pandangannya terhadap hubungan antar konstruk itu (hirarki).

4. Dichotomy Corollary : Sistem konstruk manusia terdiri atas sejumlah konstruk dikotomis atau bipolar.

5. Choice Corollary : Manusia memilih sendiri alternatif dari konstruk dikotomis tersebut berdasarkan keinginannya untuk memperjelas atau memperluas sistem konstruknya.

6. Range Corollary : Suatu konstruk hanya dapat digunakan untuk mengantisipasi peristiwa tertentu saja (ada yang dapat digunakan untuk beragam situasi atau orang, ada juga yang hanya dapat digunakan situasi yang sangat terbatas).

7. Experience Corollary : Sistem konstruksi manusia berubah sebagai hasil dari pengalaman manusia yang berubah.

8. Modullation Corollary : Variasi dalam sistem konstruk dibatasi oleh peresapan konstruk tersebut (terlalu mudah menyerap atau terlalu sulit menyerap sesuatu).

9. Fragmentation Corollary : Manusia dapat mentoleransi berbagai subsistem konstruksi yang bertentangan satu sama lain tanpa memodifikasi konstruk keseluruhan.

10. Commonality Corollary : Manusia dapat menerapkan konstruk yang sama dengan orang lain jika proses psikologisnya sama (norma, kultural, moralitas, dan idealitas).

11. Sociality Corollary : Manusia membentuk proses konstruksi dari orang lain sehingga dapat berperan dalam suatu proses sosial yang melibatkan orang lain.

Kelly tidak menggunakan konstruk sadar dan bawah sadar, tetapi beliau menggunakan konstruk verbal dan preverbal untuk membahas elemen yang diinterpretasikan oleh pihak lain sebagai sadar atau bawah sadar. Konstruk verbal dapat diekspresikan dalam kata. Sedangkan konstruk preverbal digunakan ketika orang tidak memiliki kata untuk mengekspresikannya. Konstruk preverbal dipelajari sebelum seseorang mengembangkan penggunaan bahasa. Perkembangan kepribadian Kelly tidak menekankan bahwa masa kecil tidak membentuk kepribadian seseorang saat ini. Masa kecil itu sifatnya hanya mempengaruhi dan itu pun terbatas.  

 

REFERENSI :

Feist, Jess & Gregory J. Feist. (2010). Teori Kepribadian Edisi 7. Jakarta : Salemba Humanika.

 

-SEKIAN DAN TERIMA KASIH-

 

TEORI MEDAN - KURT LEWIN

 KURT LEWIN


Psikologi Kepribadian II

Rifdah Nur Aqilah (19310410061)

Dosen Pengampu : Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., M.A.


Kurt Lewin dilahirkan di Mogilno, Prusia pada 9 September 1890 dan wafat di Newtonville, Amerika Serikat pada 12 Februari 1947. Kurt Lewin adalah penganut psikologi Gestalt, beliau memfokuskan pekerjaannya di bidang psikologi sosial dan psikologi kepribadian alih-alih dalam konteks persepsi dan pemecahan masalah. Fokus psikologi Gestalt adalah konsep-konsep persepsi, berpikir, dan belajar. Lewin menciptakan teori medan pada tahun 1935. Memakai asumsi Gestalt, Lewin mendasarkan pengembangan teorinya berdasarkan 3 asumsi, diantaranya :

1.        Dasar pemahaman psikologi bukan elemen (gambaran rincian jiwa) tetapi saling hubungan, pola atau konfigurasi.

2.    Beberapa saling hubungan menjadi dasar dari saling hubungan yang lain, jadi kepribadian cenderung bergerak menuju kesatuan Gestalt.

3.      Psikologi seharusnya dipahami dalam bentuk teori medan (field theory), di mana “field” adalah sistem pengaturan diri yang ditentukan oleh saling hubungan antar bagian dari unsur yang mendukung sistem itu.



Teori medan dari Lewin bahwa suatu perilaku tidak hanya disebabkan oleh individu ataupun lingkungan sekitarnya, tetapi gabungan interaksi antara individu dengan lingkungannya dengan kata lain perilaku adalah sebuah fungsi dari manusia dan lingkungan atau situasi sosial. Lewin merangkum idenya tersebut ke dalam persamaan B = f(P,E). B adalah behaviour atau perilaku, f adalah fungsi, P adalah person, dan E adalah environment atau lingkungan. Jadi, hubungan antara individu dan lingkungan merupakan hubungan yang holistik.  Ciri-ciri utama teori Lewin yaitu, tingkah laku adalah suatu fungsi dari medan yang ada pada waktu tingkah laku itu terjadi; analisis mulai dengan situasi sebagai keseluruhan dari mana bagian komponennya dipisahkan; orang yang konkrit dalam situasi yang konkrit dapat digambarkan secara matematis.

  

A. STRUKTUR KEPRIBADIAN

1. RUANG HIDUP (LIFE SPACE)

Ruang hidup mengandung keseluruhan kumpulan fakta yang dapat menentukan tingkah laku individu. Ruang hidup itu terus menerus berubah termasuk persepsi individu tentang dirinya, mengenai keinginan, ingatan masa lalu, imajinasi masa depan, dan perasaan-perasaannya. Ruang hidup dapat diartikan sebagai gabungan antara daerah pribadi dan daerah lingkungan psikologis, dirumuskan dalam formula Rh = (P + E). Rh adalah Ruang Hidup, P adalah Daerah Pribadi, dan E adalah Daerah Lingkungan Psikologis.


2. DAERAH PRIBADI (PERSON AREA)

Pribadi adalah heterogen, terbagi menjadi bagian-bagian yang terpisah meskipun saling berhubungan dan saling bergantung. Daerah dalam personal dibagi menjadi sel-sel yang berdekatan dengan daerah persepsi-motorik disebut sel perifer, sedangkan sel yang berada ditengah-tengah lingkaran disebut sel sentral. Semakin dekat dengan lingkaran daerah persepsi-motorik, dorongan motivasi itu semakin besar pengaruhnya terhadap tingkah laku individu.


3. DAERAH LINGKUNGAN PSIKOLOGIS

Yaitu daerah di dalam elips tetapi di luar lingkaran. Daerah ini dibagi dalam pecahan-pecahan yang disebut region. Sedangkan semua garis yang tertera pada diagram di atas yang merupakan batas antar sel, antar region disebut bondaris. Lingkaran psikologis berhenti pada batas pinggir elips, tetapi batas antara pribadi dan lingkungan juga bersifat dapat ditembus. Hal ini berarti fakta-fakta lingkungan dapat mempengaruhi pribadi, dan fakta-fakta pribadi dapat mempengaruhi lingkungan.


 B. DINAMIKA KEPRIBADIAN

Dinamika kepribadian dari Lewin terdiri dari :

1. Energi Psikis (energi yang dipakai untuk kerja psikologis). 

2. Tegangan (suatu keadaan dalam diri pribadi, tegangan cenderung menjadi seimbang dan tegangan cenderung menekan). 

3. Kebutuhan (motif, keinginan, dan dorongan). 

4. Tindakan (dibagi menjadi valensi atau nilai region dari lingkungan psikologis bagi pribadi dan vektor atau kekuatan yang mendorong terjadinya tingkah laku, adapula lokomosi atau perpindahan lingkaran pribadi).

5. Konflik (situasi di mana seseorang menerima kekuatan yang sama besar tetapi arahya berlawanan).

Konstruk dinamika kepribadian tersebut menentukan lokomosi khusus dari individu dan cara individu mengatur struktur lingkungannya. lokomosi dan perubahan struktur berfungsi mereduksi tegangan dengan cara memuaskan kebutuhan.



REFERENSI :

Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian Edisi Revisi. Malang : UMM Press


-SEKIAN DAN TERIMA KASIH-

 

CARA KONFIGURASI ACCESS POINT D-LINK DIR 600M

KONFIGURASI ACCESS POINT D-LINK DIR 600M


PART 1


KONFIGURASI WIFI ACCESS POINT D-LINK DIR 600M 



Langkah-langkah :


1. Colokkan kabel power D-Link DIR 600M
2. Sambungkan kabel ethernet dari router ke port internet pada AP
3. Sambungkan kabel ethernet dari AP ke PC untuk konfigurasi
4. Buka browser dan ketikkan IP defaultnya (192.168.0.1) untuk login ke konfigurasi AP





5. Kemudian akan muncul jendela seperti dibawah ini. Pilih Save and Connect




 6. Kemudian isi username dengan Admin dan biarkan password kosong dan klik Login





7. Klik manual Setup lalu klik Local Network, kemudian isikan IP pada AP sesuai keinginan (192.168.8.1), jangan lupa aktifkan juga DHCP Mode nya lalu klik Aplly Changes





8. Setelah itu, tunggu proses reboot nya selama 35 detik





9. Setelah proses reboot selesai, masuk ke Internet Setup. Isikan IP pada WAN Interface dengan IP Statis ISP kemudian klik Apply Changes





10. Selanjutnya, masuk ke Wireless dan klik Wireless Basic. Nah, pada Wireless Basic isikan nama SSID, Security Option (WPA-PSK/WPA2-PSK AES), dan Pre-Shared Key.Dan juga beri tanda ceklis pada kotak Enable Wireless Isolation. Lalu klik Apply




11. Setelah itu, klik Maintenance dan klik Reboot. Tunggulah proses reboot selama kurang lebih 35 detik. Dan lakukan testing menggunakan PC lain, jika sudah bisa connect internet berarti Wifi pada D-Link DIR 600M sudah berhasil









PART 2

KONFIGURASI WIRELESS REPEATER ACCESS POINT D-LINK DIR 600M



Langkah-langkah :

1. Colokkan kabel power D-Link DIR 600M yang dijadikan menjadi Wireless Repeater
2. Buka browser dan ketikkan IP defaultnya (192.168.0.1) untuk login ke konfigurasi AP






3. Kemudian akan muncul jendela seperti dibawah ini. Pilih Save and Connect






4. Lalu, klik Login





5. Pilih menu setup lalu klik Local Network

6. Kemudian isilah IP pada Access Point (192.168.8.2). Dan juga matikan DHCP Mode nya pada DHCP Server Setting. Lalu klik Apply Changes dan tunggu proses reboot selama 35 detik




7. Klik menu Internet Setup. Pada WAN Interfaces isikan WAN Access Type dengan DHCP Client. Dan klik Apply Changes
8.  Selanjutnya, masuk ke Wireless dan klik Wireless Basic. Nah, pada Wireless Basic isikan nama SSID, Security Option (WPA-PSK/WPA2-PSK AES), dan Pre-Shared Key. Lalu klik Apply





9. Kemudian klik menu Wireless Repeater dan beri tanda ceklis pada Repeater Enabled.Jangan lupa isikan juga SSID Of AP dengan SSID AP pertama. Dan klik Site Survey lalu Ok. Dan tunggulah selama 5 detik 







10. Akan muncul Wireless Repeater Setup dan kliklah SSID AP Pertama pada kolom Select lalu klik Next 







11. Isikan Pre-Shared Key sesuai dengan Access Point pertama. Lalu, klik next kemudian klik Apply

12. Terakhir klik Reboot dan tunggu Rebootingnya selama 35 detik





12. Coba lakukan testing pada PC lain dengan mengubungkan PC ke AP kedua ini, jika sudah bisa connecting berarti proses konfigurasi Wireless pada AP telah berhasil









-SEKIAN DAN TERIMAKASIH-

Rifdah Nur Aqilah's Frame

Diberdayakan oleh Blogger.

Aqilah's Frame

All About Me

Happy Cute Box Bear

Pengikut